AI, Ghibli dan Erosi Makna Ghibli
medium.com
AI, Ghibli dan Erosi Makna Seni2 min readJust now--Tren AI mengubah gambar ala Ghibli itu memukau, seolah sihir digital yang mampu menyulap dengan sekejap mata. Memang sedap dipandang, mudah dilakukan dan cepat untuk dibagikan. Tapi, tidak ada nyawa di sana. Ghibli lebih dari sekadar gaya visual, melainkan jiwa, emosi dan dedikasi manusia. AI bisa jadi kuas ajaib, tapi orisinalitas tak tergantikan.Di sinilah pertanyaan besar muncul: apakah seni masih punya nilai ketika kreativitas manusia digantikan oleh algoritma?Dalam dunia seni, keindahan tidak hanya berasal dari hasil akhir, tetapi juga proses penciptaan itu sendiri. Menggambar ala Ghibli bukan sekadar meniru guratan kuas, melainkan menyelami filosofi yang mendasari setiap frame. Kesabaran, observasi, dan keterlibatan emosional yang mendalam. Hayao Miyazaki tidak hanya menggambar, ia menuturkan kehidupan lewat gambar-gambarnya.Seni sebagai Pengalaman, Bukan Produk InstanDalam teori budaya, seni bukan sekadar objek visual yang bisa direplikasi tanpa konteks. Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, menekankan konsep habitus atau struktur sosial dan pengalaman yang membentuk pola pikir serta ekspresi seseorang. Dengan kata lain, seni adalah refleksi dari pengalaman hidup seniman.Miyazaki dan Studio Ghibli dikenal dengan esensi budaya Jepang dalam animasi mereka. Detail kecil dalam film-filmnya seperti cara angin bertiup di rerumputan dalam My Neighbor Totoro, ritual minum teh di Spirited Away, atau keheningan reflektif di The Wind Rises, semua itu bukan sekadar visual, tetapi representasi dari cara hidup dan filosofi Jepang.Ketika AI hanya mengambil elemen visual tanpa memahami konteks budaya di baliknya, hasilnya adalah kekosongan makna. Sama seperti lukisan yang hanya dicetak ulang, bukan dibuat dengan tangan dan hati.Jean Baudrillard juga berbicara tentang bagaimana dunia modern telah tenggelam dalam simulacra atau realitas yang telah digantikan oleh representasi yang terlalu banyak direplikasi sehingga kehilangan esensi aslinya. Ketika setiap orang bisa menghasilkan karya seni dengan sekali klik, seni tidak lagi menjadi ekspresi personal, melainkan sekadar produk instan.Para filsuf seni seperti Walter Benjamin dalam esainya The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction sudah lama mengingatkan bahwa seni yang direproduksi tanpa batas akan kehilangan aura-nya. Ada sesuatu yang tak tergantikan dalam karya seni yang diciptakan manusia yaitu ketidaksempurnaan, proses berpikir, dan keterlibatan emosional yang dalam.Miyazaki sendiri pernah menolak animasi yang dibuat AI karena menurutnya tidak punya jiwa. Baginya, setiap goresan pensil adalah bentuk komunikasi antara seniman dan penonton. Tapi ketika AI mengambil alih, hubungan itu terputus.Jika seni dibiarkan menjadi sekadar hasil produksi AI, apakah kita sedang menuju era di mana seniman manusia menjadi tidak relevan?AI dalam seni bukanlah musuh, tetapi kita harus menentukan batasnya. Jika digunakan sebagai alat bantu, AI bisa mempercepat produksi dan membantu eksplorasi visual. Namun, jika digunakan untuk menggantikan seniman, maka berisiko kehilangan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar gambar yaitu kemanusiaan dalam seni itu sendiri.Mungkin pertanyaan yang lebih besar bukan hanya tentang Ghibli, tetapi tentang ke mana arah seni modern akan bergerak.Apakah kita masih akan menghargai karya yang lahir dari jiwa manusia Atau kita akan terbiasa dengan seni yang dihasilkan mesin secara indah, cepat, tetapi tanpa nyawa?Bagaimana menurutmu?
0 التعليقات ·0 المشاركات ·31 مشاهدة